MAKALAH
KESEHATAN
MENTAL
ANALISIS
FILM
THE HUMAN CENTIPEDE
Disusun
oleh :
1.
Annette Jessica (11514343)
2.
I Gusti Bagus Wiradharma (15514036)
3.
Yussy Riandhini (1C514603)
2PA04
2PA04
Kata
Pengantar
Puji
dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang mahakuasa atas rahmat dan
berkatnya kami dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen kesehatan
mental sebagai syarat nilai untuk semester 4. Selain itu kami juga menghaturkan banyak terima kasih
kepada segenap pihak dan tim kelompok yang telah membantu dalam menyelesaikan
tugas ini, baik dalam bentuk dukungan maupun reverensi buku yang
diberikan.Tanpa adanya dukungan dari segenap pihak yang membantu mungkin
tulisan ini tidak akan selesain tepat waktu.
Tujuan
tulisan ini dibuat ialah untuk dapat memberikan penulisan dibalik dari peran
tokoh pemain film yang guna mengkaji faktor-faktor yang dapat menentukan
kepribadian seseorang berdasarkan pengalaman orang tersebut.
Kritik
dan saran pembaca sangat penulis hargai sebagai motivasi dalam membuat tulisan
selanjutnya untuk lebih baik lagi. Terima kasih.
Depok,
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan
mental merupakan suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang,
aman dan tentram, dan upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan
antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri
sepenuhnya kepada Tuhan)”.
Sedangkan menurut paham ilmu kedokteran, kesehatan mental merupakan suatu
kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang
optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan
orang lain. Zakiah Daradjat mendefenisikan bahwa mental yang sehat adalah
terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan
terciptanya penyesuaian diri antara individu dengan dirinya sendiri dan
lingkungannya berdasarkan keimanan dan ketakwaan serta bertujuan untuk mencapai
hidup bermakna dan bahagia di dunia dan akhirat. Jika mental sehat dicapai,
maka individu memiliki integrasi, penyesuaian dan identifikasi positif terhadap
orang lain. Dalam hal ini, individu belajar menerima tanggung jawab, menjadi
mandiri dan mencapai integrasi tingkah laku.
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan penulisan ini adalah untuk membuat analisis film yang berhubungan dengan
matakuliah kesehatan mental, yaitu mengenai Human Centipede.
Sinopsis
Lindsay
dan Jenny sebenarnya ingin merasakan pengalaman liburan yang menyenangkan
mengelilingi Eropa, tetapi peristiwa ban bocor di tengah jalan ini
mengkandaskan kata menyenangkan menjadi pengalaman yang paling buruk sepanjang
hidup mereka. Ketika menuju sebuah bar, tiba-tiba ban mobil yang mereka
tumpangi bocor di tengah jalan yang sepi. Mereka pun bingung karena tidak tahu
cara mengganti ban. Tanpa pikir panjang mereka mencoba menelepon siapapun untuk
mencari pertolongan, tetapi sinyal tidak menangkap di wilayah tersebut. Mereka
kemudian mencari rumah terdekat untuk meminta bantuan sampai akhirnya tersesat.
Hujan pun turun ditemani kilat dan Guntur, dan mereka akhirnya menemukan sebuah
rumah.
Dr.
Heiter, sang pemilik rumah pun mempersilahkan mereka masuk dan menyambut mereka
dengan ramah, memberikan mereka minum. Keramahan dari Dr. Heiter ini yang
menimbulkan rasa curiga kepada Lindsay, tetapi kecurigaan Lindsay ini terlambat
karena Jenny sudah terlihat lemas karena pengaruh obat yang Dr. Heiter
campurkan dalam air minumnya. Keesokan harinya, Lindsay dan Jenny mendapati
dirinya sudah terbaring di dalam ruangan operasi, dan ternyata Dr. Heiter
adalah Dokter Gila yang terkenal karena keberhasilannya memisahkan bayi
kembar siam. Dr. Heiter mempunyai impian yang sangat gila untuk membuat Manusia
Kelabang. Dr. Heiter telah menjelaskan kepada mereka bagaimana operasi
penyambungan ini menjadi Manusia Kelabang berikut beberapa foto konsep
Dr. Heiter merancang manusia kelabang.
Operasi
penyambunga menjadi manusia kelabang pun segera dilakukan, Dr. Heiter telah
memotong otot lutut supaya mereka hanya bisa merangkak, mencabut gigi depan dan
menjahit mulut korban di posisi ketiga ke anus korban disisi kedua, begitu juga
dengan korban kedua yang disambung ke anus korban di posisi pertama, dan sebuah
manusia kelabang pun telah berhasil diciptakan oleh Dr. Heiter.
Teori
PSIKOPAT
Berikut ini adalah
gejala-gejala psikopat4:
1.
Sering berbohong, fasih dan dangkal.
2.
Psikopat seringkali pandai melucu dan
pintar bicara, secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di bidang
sosiologi, psikiatri, kedokteran, psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan
lain-lain.
3.
Seringkali pandai mengarang cerita yang
membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan
menutupinya dengan mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu
fakta.
4.
Egosentris dan menganggap dirinya hebat.
5.
Tidak punya rasa sesal dan rasa
bersalah. Meski kadang psikopat mengakui perbuatannya namun ia sangat
meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk
peduli.
6.
Senang melakukan pelanggaran dan
bermasalah perilaku di masa kecil.
7.
Sikap psikopat di usia dewasa.
8.
Kurang empati. Bagi psikopat memotong
kepala ayam dan memotong kepala orang, tidak ada bedanya.
9.
Psikopat juga teguh dalam bertindak
agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur larut dan sering keluar
rumah.
10.
Impulsif dan sulit mengendalikan diri.
Untuk psikopat tidak ada waktu untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan
mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau
memikirkan tentang masa depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan
hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah
menyerang orang hanya karena hal sepele.
11.
Tidak mampu bertanggung jawab dan
melakukan hal-hal demi kesenangan belaka.
12.
Manipulatif dan curang. Psikopat juga
sering menunjukkan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak
sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis yang secara
normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung
berdebar, mulut kering, tegang, gemetar -- bagi psikopat hal ini tidak berlaku.
Karena itu psikopat seringkali disebut dengan istilah "dingin".
13.
Hidup sebagai parasit karena
memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan dirinya.
Istilah psikopat tidak
ditemukan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) IV.
Artinya, psikopat tidak tercantum dalam daftar penyakit, gangguan atau kelainan
jiwa di lingkungan ahli kedokteran jiwa dan psikolog Amerika Serikat. Psikopat
dimasukkan dalam klasifikasi gangguan kepribadian dissosial dalam kedokteran
jiwa.
Jika dikaitkan dengan
teori psikologi, yakni dengan melihat aspek psikologis pelakunya, sesuai dengan
teori psikoanalisis Freud, para pelaku ini memiliki konflik yang tidak
terselesaikan yang dihasilkan oleh trauma masa lalu sejak masa kanak-kanak
sehingga mengakibatkan ketidakteraturan kepribadian atau gangguan mental yang
dimanifestasikan melalui perilaku agresif kepada orang lain. Menurut Freud,
dorongan agresif ini merupakan salah satu derivatif penting insting-insting
mati
NEKROFILIA
Dalam nekrofilia, terdapat dua jenis fenomena: (1)
Nekrofilia Seksual, yaitu keingin untuk berhubungan seks dengan mayat. (2)
Nekrofilia Non-Seksual, yaitu keinginan untuk menyentuh, berdekatan,
memandangi, bahkan memotong tubuh mayat.
Gangguan kepribadian nekrofilia ini adalah suatu
gangguan yang bisa saja didasari oleh kecemasan dasar (basic anxiety)
dan juga id yang mendominasi ego dan superego.
JP
Rosman dan PJ Resnick (1989) mengklasifikasikan penyebab nekrofilia berdasarkan
persentase yang ditemukan dalam beberapa kasus nyata yakni 68 persen karena
ingin pasangan yang tak bisa melawan, 21 persen didorong keinginan bersatu
dengan pasangan yang telah meninggalkan, 15 persen karena daya tarik seksual
dari mayat, 15 persen untuk alasan kenyamanan, dan 11 persen karena keinginan
memperbaiki harga diri yang rendah dengan menerapkan kuasa penuh atas mayat
Erich Fromm : Psikoanalisis Humanistik
Psikoanalisis Humanistis berasumsi bahwa terpisahnya
manusia dengan dunia alam menghasilkan perasaan kesendirian dan isolasi,
kondisi yang disebut sebagai kecemasan dasar (basic anxiety). Kesadaran
diri turut ambil bagian dalam adanya perasaan kesendirian, isolasi, dan
kehilangan tempat berpulang. Untuk melarikan diri dari perasaan-perasaan ini,
manusia berusaha untuk bersatu kembali dengan alam dan sesama manusia. Oleh
karena kecemasan dasar menghasilkan rasa keterasingan dan kesendirian yang
menakutkan, maka manusia berusaha untuk lari dari kebebasan melalui berbagai
macam mekanisme pelarian. Dalam Escape from Freedom, Fromm menyebutkan
tiga mekanisme dasar dari pelarian yaitu Authoritarianism, Destructiveness,
Comformity.
Sifat merusak atau Destuctiveness berasal dari
perasaan kesendirian, keterasingan, dan ketidakberdayaan. Sifat ini merupakan
mencari jalan untuk menghilangkan orang lain. Dengan menghancurkan orang atau
objek, seseorang atau sebuah bangsa berusaha untuk mendapatkan kembali
rasa kekuasaan yang hilang. Orang-orang dengan sifat merusak menghapuskan
banyak hal dari dunia luar sehingga memperoleh keterasingan yang tidak diterima
di masyarakat.
Fromm menyatakan tiga gangguan kepribadian yang berat−nekrofilia,
narsisme berat, dan simbiosis inses. Istilah “nekrofilia” (necrophilia)
berarti cinta akan kematian dan biasanya mengacu pada kelainan seksual dimana
seseorang menginginkan kontak seksual dengan mayat. Fromm (1964, 1973)
menggunakan istilah nekrofilia dalam arti yang lebih umum untuk menunjukkan
ketertarikan akan kematian. Mereka mendapat kesenangan dengan menghancurkan
kehidupan. Semua orang bertingkah laku agresif dan destruktif sewaktu-waktu,
namun keseluruhan gaya hidup orang-orang dengan nekrofilia adalah seputar
kematian, kehancuran, penyakit, dan pembusukan. Penyebabnya beragam dan
kebanyakan dan dialami mereka akan hal tertentu. Beberapa kondisi ini juga
mempengaruhi, seperti: takut ditolak pasangan, menginginkan pasangan yang tak
bisa menolaknya, atau ke khawatiran untuk meninggal dunia.
J.P Rosman dan PJ Resnick (1989) mengkalirifikasikan
penyebab nekrofilia berdasarkan presentase yang ditemukan yakni, 68% karena
ingin pasangan yang tidak bisa melawan, 21 % didorong keinginan bersatu dengan
pasangan yang telah meninggal, 15% karena daya tarik seksual dari mayat, 15%
untuk alasan kenyamanan, dan 11% karena keinginan memperbaiki harga diri yang
redah dengan menerapkan kuasa penuh atas mayat.
Orang-orang yang memiliki tiga gangguan seperti itu
membentuk apa yang disebut Fromm dengan sindrom pembusukan (syndrome of
decay). Ia membandingkan orang-orang patologis ini dengan mereka yang
memiliki sindrom pertumbuhan (syndrome of growth) yang terbentuk oelh
kualitas yang berlawanan, yaitu biofilia, cinta, dan kebebasan positif. Kedua
sindrom ini adalah bentuk ekstrem dari perkembangan. Kebanyakan orang memiliki
kesehatan psikologis rata
Penyebab terjadinya nekrofilia
Nekrofilia (bersenggama dengan
mayat) dapat diakibatkan oleh beberapa faktor:
a. Faktor
psikologis
Faktor penyebab nekrofilia dari segi
psikologis diantara lain, tidak mampunya fikiran dan tubuh menerima kenyataan
yang terjadi, adanya gangguan psikis bawaan, dan lainnya.
-
Tidak mampunya fikiran dan tubuh menerima kenyataan yang terjadi, seperti
kematian kekasih tercinta, akan mengakibatkan goncangan batin yang kuat, yang
mengakibatkan terjadinya ketidakmampuan otak berfikir secara positif dan logis,
mengakibatkan terganggunya keadaan jiwa, dan mengakibatkan ketidak relaan
terhadap kematian dan akhirnya berujung pada tindakan nekrofilia.
-
Gangguan psikis bawaan, gangguan seperti ini memang jarang yang bersifat bawaan
namun dalam beberapa kasus nekrofilia, bagi yang penyebabnya adalah berupa
kelainan bawaan akibat dari nekrofilianya sangat gawat dan dapat mengarah pula
ke kegiatan kanibalisme atau kegiatan memutilasi mayat.
b.
Faktor pengalaman masa kecil
Faktor pengalaman masa kecil juga
erat kaitannya dengan ajaran dari orang tua, perilaku teman penderita waktu
kecil, tontonan tontonan yang mengarah pada tindak kejahatan pembunuhan dll.
Ajaran dari orang tua merupakan suatu pilar pokok dalam pembangunan perilaku
dan akhlak seorang anak, apabila ajaran dari orang tua tidak baik, sering
bersikap kasar pada anak, memberi contoh yang tidak baik dapat mempengaruhi
anak untuk berbuat lebih buruk dan lebih anarkis dari yang diajarkan oleh orang tuanya.
Pengaruh teman sebaya saat kecil juga berpengaruh besar untuk terjadinya
perilaku nekrofilia pada masa dewasanya, ini terjadi apabila teman yang diajak
berteman ternyata memiliki perilaku yang brutal, dan memberi pengaruh besar
bagi si penderita.
c.
Faktor bawaan
Faktor ini adalah faktor
yang menyebabkan si penderita nekrofilia hanya dapat mendapatkan kepuasaan
seksual dengan persenggamaan dengan mayat, dalam pengertian lain menyebutkan
bahwa si pengidap nekrofilia tidak mempuanyai nfsu terhadap manusia hidup, dia
tidak memiliki ketertarikan dalam hal seksual dan merasakan ada yang salah
apabila berhubungan dengan manusia hidup. Nekrofilia yang diakibatkan oleh
faktor bawaan memiliki kecendrungan untuk sembuh yang lebih kecil di banding
faktor yang lain, ini diakibatkan karena nekrofilianya dikarena kan faktor dari
dalam jiwa yang salah. Penderita dengan faktor bawaan memang sedikit ditemui
namun akibatnya sangat berbahaya karena kemungkinan akan juga diikuti oleh
kelainan seksual yang lainnya.
d.
Faktor sosial yang salah
Faktor ini adalah dikarenakan adanya
kegiatan ikut-ikutan dengan penderita nekrofili, mengakibatkan si peniru
akhirnya terbawa kepada dunia nekrofili. Faktor ini lebih jarang lagi ditemukan
pada kasus kasus nekrofilia yang pernah terjadi.
Penyebab nekrofilia menurut sumber
lain:
Inilah penyebab-penyebab seseorang
melakukan Necrophilia:
68 persen itu didorong oleh keinginan
untuk tidak ditolak dalam berhubungan;
21 persen oleh sebuah keinginan untuk
reuni dengan mitra yang hilang;
15 persen oleh ketertarikan seksual
dengan orang mati;
15 persen oleh keinginan untuk
kenyamanan atau untuk mengatasi perasaan isolasi
11 persen oleh keinginan untuk
memperbaiki harga diri yang rendah dengan mengekspresikan kekuasaan atas mayat
4.
Jenis-jenis nekrofilia
Adapun jenis-jenis dari nekrofilia
adalah sebagai berikut:
·
Berdasarkan cara memperoleh kepuasan
seksual
1. Necrophilic Homicide
Penderitanya harus membunuh terlebih
dahulu untuk mendapatkan mayat dan memperoleh kepuasan seksual.Nekrofilia jenis
ini sangat berbahaya karena kegiatan pembunuhan yang dilakukannya, tentu juga
akan membuat geger masyarakat, kadang kala juga dilanjutkan dengan kegiatan
kanibalisme walaupun jarang ditemukan.
2. Regular Necrophilia
Si penderita hanya menggunakan mayat
yang sudah mati untuk memperoleh kesenangan seksual. Biasanya untuk mendapatkan
mayat yang akan disetubuhi penderita akan mencari di kamar-kamar mayat,
menggali kuburan, dan lainnya. Kadang si penderita bekerja di tempat-tempat
yang berhubungan dengan mayat, seperti menjadi petugas keamanan kamar mayat,
keamanan di tempat pekuburan dsb.
3. Necrophilic Fantasy
Si penderita berfantasi berhubungan
seks dengan mayat, tetapi tidak melakukannya. Dapat dikatakan juga dengan
nekrofilia andai-andai, walau hanya di fantasikan dalam pikirannya apabila hal
ini di biarkan maka akan mengarah pada jenis nekrofilia yang lainnya, dan dapat
meningkat menjadi nekrofilia homicide.
·
Berdasarkan kegitan terhadap mayat
a.
Hanya melakukan hubungan seksual
Penderita nekrofilia jenis ini hanya
menggunakan mayat untuk kepuasaan seksualnya saja tidak untuk tindakan lain.
b.
Hubungan seksual dengan mutilasi
Penderita nekrofilia jenis ini selain
menggunakan mayat sebagai wahana kepuasan seksual juga melakukan kegitan
pemotongan bagian-bagian tubuh mayat, si penderita mendapatkan kepuasan lebih
apabila melakukan mutilasi, nekrofilia ini dapat diakibatkan dari rasa benci
karena penolakan melakukan hubungan
seksual dari lawan jenis yang disukai.
c.
Hubungan seksual diiringi dengan mutilasi dan kegiatan kanibalisme
Kepuasan penderita nekrofilia jenis
ini akan menjadi sempurna apabila di tambah dengan kegiatan memakan beberapa
organ mayat dan meminum darahnya, banyak orang menerka bahwa kegiatan memakan
organ (kanibalisme) ini berhubungan dengan adanya kegiatan menuntut ilmu hitam,
benar atau tidak itu masih menjadi isu–isu di masyarakat.
Sex abuse
Riset
menurut Holmes dan Holmes (2002) mengklasifikasi 2 jenis pelaku pelecehan
seksual:
1.
berdasarkan situasional – tidak memilih pemuasan seksual hanya pada anak, namun
pada kondisi tertentu bisa berhubungan seksual dengan anak. Jenisnya dapat
dibagi menjadi:
a. Tipe regresi: memiliki relasi intim dengan orang dewasa lain, namun stress hidup membuat mereka mencari anak untuk memuaskan seksualitas
b. Tipe kemunduran moral: melakukan berbagai penyimpangan seks, pelecehan pada anak hanya salah satu hal penyimpangannya
c. Tipe naïf/tidak mampu: tidak mampu membuat relasi dengan lawan jenis yang setara, maka mencari anak karena mudah patuh dan tidak melawan
a. Tipe regresi: memiliki relasi intim dengan orang dewasa lain, namun stress hidup membuat mereka mencari anak untuk memuaskan seksualitas
b. Tipe kemunduran moral: melakukan berbagai penyimpangan seks, pelecehan pada anak hanya salah satu hal penyimpangannya
c. Tipe naïf/tidak mampu: tidak mampu membuat relasi dengan lawan jenis yang setara, maka mencari anak karena mudah patuh dan tidak melawan
2.
berdasarkan pilihan – pelaku memang memiliki minat seksual pada anak
a. Tipe mysoped: memiliki kecenderungan sadis dan melakukan kekerasan
b. Tipe fiksasi: minat pada dunia kanak terfiksasi sehingga tidak ada atau kurang melakukan aktivitas sosial dengan orang sebayanya
a. Tipe mysoped: memiliki kecenderungan sadis dan melakukan kekerasan
b. Tipe fiksasi: minat pada dunia kanak terfiksasi sehingga tidak ada atau kurang melakukan aktivitas sosial dengan orang sebayanya
Penelitian
menemukan bahwa sebagian pelaku pelecehan seksual dulunya pernah menjadi korban
pelecehan seksual. Namun tidak semua korban pelecehan seksual anak akan menjadi
pelaku di masa dewasanya. Kejahatan seksual didorong juga oleh distorsi
kognitif atau ide yang salah mengenai kekerasan dan seksualitas, beberapa di
antaranya adalah:
1)
minimalisir luka, perilaku pelecehan disangkal lukanya atau dikecilkan agar
terkesan tidak salah;
2) menyalahkan korban, pelaku membuat dalih
bahwa pelecehan terjadi karena kesalahan korban sendiri, misalkan karena
kebodohan atau keinginan korban diperlakukan sedemikian rupa; dan
3)
alasan, pelaku dapat berdalih bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain
melakukan pelecehan, misalkan: karena istri sakit maka ia melakukan aktivitas
seksual dengan anaknya. Mengingat penyebab besar dari pelecehan seksual adalah
distorsi kognitif, maka intervensi bagi pelaku penting untuk menarget distorsi
kognitifnya.
Analisi Film
Dalam
film Human Centipede: First Sequence, kita dapat melihat karakter yang sangat
jelas dari Dr. Heiter, dan berdasarkan teori dan sumber yang kami baca,
Dr.Heiter mengalami gangguan kesehatan seperti apa yang tercantum diatas
(psikopat, nekrofilia, sex abuse). Jika dibahas satu persatu salah satu alasan
mengapa Dr.Heiter dapat kita bilang seorang psikopat dapat dilihat dari
perilaku dan kepribadiannya seperti, melakukan penculikan dan eksperimen
manusia hanya demi kesenangan belaka, dan ia pun menganggap bahwa dirinya lebih
tinggi derajatnya disbanding orang lain.
Walaupun
dalam film tersebut tidak diceritakan apa alasan dan bagaimana Dr.Heiter menjadi seorang psikopat, jika di dilihat dari
sumber-sumber yang ada, psikopat sendiri bisa terjadi karena adanya konflik
yang tidak terselesaian ataupun trauma ketika masa kanak-kanak.
Dr.Heiter
pun dalam analisis kami mengidap nekrofilia, walaupun dalam arti secara umum
bahwa nekrofilia adalah kecintaan atau ketertarikan terhadap mayat, berdasarkan
pendapat Fromm (1964, 1973)Nekrofilia memiliki arti yang lebih umum untuk menunjukkan ketertarikan
akan kematian. Mereka mendapat kesenangan dengan menghancurkan kehidupan. Banyak sekali adegan-adegan
yang menunjukan Dr.Heiter terlihat sangat puas dengan tindakannya terutama
setelah berhasil mengoperasi orang-orang dalam film tersebut menjadi Manusia
Kelabang, karena itulah kami berpendapat bahwa Dr.Heiter juga tergolong seorang
Nekrofilia. Banyak sekali adegan pendukungnya seperti terlihat kepuasan ketika
melihat eksperimennya tersiksa, ataupun ketika menyiksa langsung eksperimennya
ketika tidak menuruti perintahnya dengan mencambuk atau memukuli eksperimennya
tersebut.
Selain
dari adegan-adegan, sebenarnya dari tingkah laku, cara bicara, dan sikap dalam
menghadapi sesuatu yang ditunjukan oleh Dr.Heiter sudah dapat menunjukan bahwa
ia memiliki gagguan kesehatan mental. Maka dari itu ciri-ciri dari psikopat dan
nekrofilia sangat terlihat dengan jelas, dan merupakan gangguan kesehatan
mental yang diderita oleh Dr.Heiter.








Tidak ada komentar