Analisis Film The Human Centipede

Share:
MAKALAH
KESEHATAN MENTAL












ANALISIS FILM
THE HUMAN CENTIPEDE










  
Disusun oleh :
1. Annette Jessica (11514343)
2. I Gusti Bagus Wiradharma (15514036)
3. Yussy Riandhini (1C514603)

2PA04








Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang mahakuasa atas rahmat dan berkatnya kami dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen kesehatan mental sebagai syarat nilai untuk semester 4. Selain  itu kami juga menghaturkan banyak terima kasih kepada segenap pihak dan tim kelompok yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini, baik dalam bentuk dukungan maupun reverensi buku yang diberikan.Tanpa adanya dukungan dari segenap pihak yang membantu mungkin tulisan ini tidak akan selesain tepat waktu.
Tujuan tulisan ini dibuat ialah untuk dapat memberikan penulisan dibalik dari peran tokoh pemain film yang guna mengkaji faktor-faktor yang dapat menentukan kepribadian seseorang berdasarkan pengalaman orang tersebut.
Kritik dan saran pembaca sangat penulis hargai sebagai motivasi dalam membuat tulisan selanjutnya untuk lebih baik lagi. Terima kasih.




Depok,

Penulis




BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan mental merupakan suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram, dan upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan)”.

Sedangkan menurut paham ilmu kedokteran, kesehatan mental merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Zakiah Daradjat mendefenisikan bahwa mental yang sehat adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara individu dengan dirinya sendiri dan lingkungannya berdasarkan keimanan dan ketakwaan serta bertujuan untuk mencapai hidup bermakna dan bahagia di dunia dan akhirat. Jika mental sehat dicapai, maka individu memiliki integrasi, penyesuaian dan identifikasi positif terhadap orang lain. Dalam hal ini, individu belajar menerima tanggung jawab, menjadi mandiri dan mencapai integrasi tingkah laku.
1.2  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk membuat analisis film yang berhubungan dengan matakuliah kesehatan mental, yaitu mengenai Human Centipede.






Sinopsis
Lindsay dan Jenny sebenarnya ingin merasakan pengalaman liburan yang menyenangkan mengelilingi Eropa, tetapi peristiwa ban bocor di tengah jalan ini mengkandaskan kata menyenangkan menjadi pengalaman yang paling buruk sepanjang hidup mereka. Ketika menuju sebuah bar, tiba-tiba ban mobil yang mereka tumpangi bocor di tengah jalan yang sepi. Mereka pun bingung karena tidak tahu cara mengganti ban. Tanpa pikir panjang mereka mencoba menelepon siapapun untuk mencari pertolongan, tetapi sinyal tidak menangkap di wilayah tersebut. Mereka kemudian mencari rumah terdekat untuk meminta bantuan sampai akhirnya tersesat. Hujan pun turun ditemani kilat dan Guntur, dan mereka akhirnya menemukan sebuah rumah.
Dr. Heiter, sang pemilik rumah pun mempersilahkan mereka masuk dan menyambut mereka dengan ramah, memberikan mereka minum. Keramahan dari Dr. Heiter ini yang menimbulkan rasa curiga kepada Lindsay, tetapi kecurigaan Lindsay ini terlambat karena Jenny sudah terlihat lemas karena pengaruh obat yang Dr. Heiter campurkan dalam air minumnya. Keesokan harinya, Lindsay dan Jenny mendapati dirinya sudah terbaring di dalam ruangan operasi, dan ternyata Dr. Heiter adalah Dokter Gila yang terkenal karena keberhasilannya memisahkan bayi kembar siam. Dr. Heiter mempunyai impian yang sangat gila untuk membuat Manusia Kelabang. Dr. Heiter telah menjelaskan kepada mereka bagaimana operasi penyambungan ini menjadi Manusia Kelabang berikut beberapa foto konsep Dr. Heiter merancang manusia kelabang.
Operasi penyambunga menjadi manusia kelabang pun segera dilakukan, Dr. Heiter telah memotong otot lutut supaya mereka hanya bisa merangkak, mencabut gigi depan dan menjahit mulut korban di posisi ketiga ke anus korban disisi kedua, begitu juga dengan korban kedua yang disambung ke anus korban di posisi pertama, dan sebuah manusia kelabang pun telah berhasil diciptakan oleh Dr. Heiter.





Teori
PSIKOPAT
Berikut ini adalah gejala-gejala psikopat4:
1.      Sering berbohong, fasih dan dangkal.
2.      Psikopat seringkali pandai melucu dan pintar bicara, secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di bidang sosiologi, psikiatri, kedokteran, psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan lain-lain.
3.      Seringkali pandai mengarang cerita yang membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya dengan mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu fakta.
4.      Egosentris dan menganggap dirinya hebat.
5.      Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah. Meski kadang psikopat mengakui perbuatannya namun ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli.
6.      Senang melakukan pelanggaran dan bermasalah perilaku di masa kecil.
7.      Sikap psikopat di usia dewasa.
8.      Kurang empati. Bagi psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala orang, tidak ada bedanya.
9.      Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur larut dan sering keluar rumah.
10.  Impulsif dan sulit mengendalikan diri. Untuk psikopat tidak ada waktu untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.
11.  Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi kesenangan belaka.
12.  Manipulatif dan curang. Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, gemetar -- bagi psikopat hal ini tidak berlaku. Karena itu psikopat seringkali disebut dengan istilah "dingin".
13.  Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan dirinya.
Istilah psikopat tidak ditemukan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) IV. Artinya, psikopat tidak tercantum dalam daftar penyakit, gangguan atau kelainan jiwa di lingkungan ahli kedokteran jiwa dan psikolog Amerika Serikat. Psikopat dimasukkan dalam klasifikasi gangguan kepribadian dissosial dalam kedokteran jiwa.

Jika dikaitkan dengan teori psikologi, yakni dengan melihat aspek psikologis pelakunya, sesuai dengan teori psikoanalisis Freud, para pelaku ini memiliki konflik yang tidak terselesaikan yang dihasilkan oleh trauma masa lalu sejak masa kanak-kanak sehingga mengakibatkan ketidakteraturan kepribadian atau gangguan mental yang dimanifestasikan melalui perilaku agresif kepada orang lain. Menurut Freud, dorongan agresif ini merupakan salah satu derivatif penting insting-insting mati


NEKROFILIA
Dalam nekrofilia, terdapat dua jenis fenomena: (1) Nekrofilia Seksual, yaitu keingin untuk berhubungan seks dengan mayat. (2) Nekrofilia Non-Seksual, yaitu keinginan untuk menyentuh, berdekatan, memandangi, bahkan memotong tubuh mayat.
Gangguan kepribadian nekrofilia ini adalah suatu gangguan yang bisa saja didasari oleh kecemasan dasar (basic anxiety) dan juga id yang mendominasi ego dan superego.
JP Rosman dan PJ Resnick (1989) mengklasifikasikan penyebab nekrofilia berdasarkan persentase yang ditemukan dalam beberapa kasus nyata yakni 68 persen karena ingin pasangan yang tak bisa melawan, 21 persen didorong keinginan bersatu dengan pasangan yang telah meninggalkan, 15 persen karena daya tarik seksual dari mayat, 15 persen untuk alasan kenyamanan, dan 11 persen karena keinginan memperbaiki harga diri yang rendah dengan menerapkan kuasa penuh atas mayat
Erich Fromm : Psikoanalisis Humanistik
Psikoanalisis Humanistis berasumsi bahwa terpisahnya manusia dengan dunia alam menghasilkan perasaan kesendirian dan isolasi, kondisi yang disebut sebagai kecemasan dasar (basic anxiety). Kesadaran diri turut ambil bagian dalam adanya perasaan kesendirian, isolasi, dan kehilangan tempat berpulang. Untuk melarikan diri dari perasaan-perasaan ini, manusia berusaha untuk bersatu kembali dengan alam dan sesama manusia. Oleh karena kecemasan dasar menghasilkan rasa keterasingan dan kesendirian yang menakutkan, maka manusia berusaha untuk lari dari kebebasan melalui berbagai macam mekanisme pelarian. Dalam Escape from Freedom, Fromm menyebutkan tiga mekanisme dasar dari pelarian yaitu Authoritarianism, Destructiveness, Comformity.
Sifat merusak atau Destuctiveness berasal dari perasaan kesendirian, keterasingan, dan ketidakberdayaan. Sifat ini merupakan mencari jalan untuk menghilangkan orang lain. Dengan menghancurkan orang atau objek, seseorang atau sebuah bangsa berusaha untuk mendapatkan kembali  rasa kekuasaan yang hilang. Orang-orang dengan sifat merusak menghapuskan banyak hal dari dunia luar sehingga memperoleh keterasingan yang tidak diterima di masyarakat.
Fromm menyatakan tiga gangguan kepribadian yang berat−nekrofilia, narsisme berat, dan simbiosis inses. Istilah “nekrofilia” (necrophilia) berarti cinta akan kematian dan biasanya mengacu pada kelainan seksual dimana seseorang menginginkan kontak seksual dengan mayat. Fromm (1964, 1973) menggunakan istilah nekrofilia dalam arti yang lebih umum untuk menunjukkan ketertarikan akan kematian. Mereka mendapat kesenangan dengan menghancurkan kehidupan. Semua orang bertingkah laku agresif dan destruktif sewaktu-waktu, namun keseluruhan gaya hidup orang-orang dengan nekrofilia adalah seputar kematian, kehancuran, penyakit, dan pembusukan. Penyebabnya beragam dan kebanyakan dan dialami mereka akan hal tertentu. Beberapa kondisi ini juga mempengaruhi, seperti: takut ditolak pasangan, menginginkan pasangan yang tak bisa menolaknya, atau ke khawatiran untuk meninggal dunia.
J.P Rosman dan PJ Resnick (1989) mengkalirifikasikan penyebab nekrofilia berdasarkan presentase yang ditemukan yakni, 68% karena ingin pasangan yang tidak bisa melawan, 21 % didorong keinginan bersatu dengan pasangan yang telah meninggal, 15% karena daya tarik seksual dari mayat, 15% untuk alasan kenyamanan, dan 11% karena keinginan memperbaiki harga diri yang redah dengan menerapkan kuasa penuh atas mayat.
Orang-orang yang memiliki tiga gangguan seperti itu membentuk apa yang disebut Fromm dengan sindrom pembusukan (syndrome of decay). Ia membandingkan orang-orang patologis ini dengan mereka yang memiliki sindrom pertumbuhan (syndrome of growth) yang terbentuk oelh kualitas yang berlawanan, yaitu biofilia, cinta, dan kebebasan positif. Kedua sindrom ini adalah bentuk ekstrem dari perkembangan. Kebanyakan orang memiliki kesehatan psikologis rata
Penyebab terjadinya nekrofilia
 Nekrofilia (bersenggama dengan mayat) dapat diakibatkan oleh beberapa faktor:
a.    Faktor psikologis
Faktor penyebab nekrofilia dari segi psikologis diantara lain, tidak mampunya fikiran dan tubuh menerima kenyataan yang terjadi, adanya gangguan psikis bawaan, dan lainnya.
-          Tidak mampunya fikiran dan tubuh menerima kenyataan yang terjadi, seperti kematian kekasih tercinta, akan mengakibatkan goncangan batin yang kuat, yang mengakibatkan terjadinya ketidakmampuan otak berfikir secara positif dan logis, mengakibatkan terganggunya keadaan jiwa, dan mengakibatkan ketidak relaan terhadap kematian dan akhirnya berujung pada tindakan nekrofilia.
-          Gangguan psikis bawaan, gangguan seperti ini memang jarang yang bersifat bawaan namun dalam beberapa kasus nekrofilia, bagi yang penyebabnya adalah berupa kelainan bawaan akibat dari nekrofilianya sangat gawat dan dapat mengarah pula ke kegiatan kanibalisme atau kegiatan memutilasi mayat.
 b.      Faktor pengalaman masa kecil
Faktor pengalaman masa kecil juga erat kaitannya dengan ajaran dari orang tua, perilaku teman penderita waktu kecil, tontonan tontonan yang mengarah pada tindak kejahatan pembunuhan dll. Ajaran dari orang tua merupakan suatu pilar pokok dalam pembangunan perilaku dan akhlak seorang anak, apabila ajaran dari orang tua tidak baik, sering bersikap kasar pada anak, memberi contoh yang tidak baik dapat mempengaruhi anak untuk berbuat lebih buruk dan lebih anarkis  dari yang diajarkan oleh orang tuanya. Pengaruh teman sebaya saat kecil juga berpengaruh besar untuk terjadinya perilaku nekrofilia pada masa dewasanya, ini terjadi apabila teman yang diajak berteman ternyata memiliki perilaku yang brutal, dan memberi pengaruh besar bagi si penderita.
c.       Faktor bawaan
   Faktor ini adalah faktor yang menyebabkan si penderita nekrofilia hanya dapat mendapatkan kepuasaan seksual dengan persenggamaan dengan mayat, dalam pengertian lain menyebutkan bahwa si pengidap nekrofilia tidak mempuanyai nfsu terhadap manusia hidup, dia tidak memiliki ketertarikan dalam hal seksual dan merasakan ada yang salah apabila berhubungan dengan manusia hidup. Nekrofilia yang diakibatkan oleh faktor bawaan memiliki kecendrungan untuk sembuh yang lebih kecil di banding faktor yang lain, ini diakibatkan karena nekrofilianya dikarena kan faktor dari dalam jiwa yang salah. Penderita dengan faktor bawaan memang sedikit ditemui namun akibatnya sangat berbahaya karena kemungkinan akan juga diikuti oleh kelainan seksual yang lainnya.
 d.      Faktor sosial yang salah
Faktor ini adalah dikarenakan adanya kegiatan ikut-ikutan dengan penderita nekrofili, mengakibatkan si peniru akhirnya terbawa kepada dunia nekrofili. Faktor ini lebih jarang lagi ditemukan pada kasus kasus nekrofilia yang pernah terjadi.

Penyebab nekrofilia menurut sumber lain:
Inilah penyebab-penyebab seseorang melakukan Necrophilia:
68 persen itu didorong oleh keinginan untuk tidak ditolak dalam berhubungan;
21 persen oleh sebuah keinginan untuk reuni dengan mitra yang hilang;
15 persen oleh ketertarikan seksual dengan orang mati;
15 persen oleh keinginan untuk kenyamanan atau untuk mengatasi perasaan isolasi
11 persen oleh keinginan untuk memperbaiki harga diri yang rendah dengan mengekspresikan kekuasaan atas mayat
4.     Jenis-jenis nekrofilia
Adapun jenis-jenis dari nekrofilia adalah sebagai berikut:
 ·         Berdasarkan cara memperoleh kepuasan seksual
1.      Necrophilic Homicide
          Penderitanya harus membunuh terlebih dahulu untuk mendapatkan mayat dan memperoleh kepuasan seksual.Nekrofilia jenis ini sangat berbahaya karena kegiatan pembunuhan yang dilakukannya, tentu juga akan membuat geger masyarakat, kadang kala juga dilanjutkan dengan kegiatan kanibalisme walaupun jarang ditemukan.
2.     Regular Necrophilia
Si penderita hanya menggunakan mayat yang sudah mati untuk memperoleh kesenangan seksual. Biasanya untuk mendapatkan mayat yang akan disetubuhi penderita akan mencari di kamar-kamar mayat, menggali kuburan, dan lainnya. Kadang si penderita bekerja di tempat-tempat yang berhubungan dengan mayat, seperti menjadi petugas keamanan kamar mayat, keamanan di tempat pekuburan dsb.
     3.     Necrophilic Fantasy
        Si penderita berfantasi berhubungan seks dengan mayat, tetapi tidak melakukannya. Dapat dikatakan juga dengan nekrofilia andai-andai, walau hanya di fantasikan dalam pikirannya apabila hal ini di biarkan maka akan mengarah pada jenis nekrofilia yang lainnya, dan dapat meningkat menjadi nekrofilia homicide.
·         Berdasarkan kegitan terhadap mayat
a.       Hanya melakukan hubungan seksual
Penderita nekrofilia jenis ini hanya menggunakan mayat untuk kepuasaan seksualnya saja tidak untuk tindakan lain.
b.      Hubungan seksual dengan mutilasi
Penderita nekrofilia jenis ini selain menggunakan mayat sebagai wahana kepuasan seksual juga melakukan kegitan pemotongan bagian-bagian tubuh mayat, si penderita mendapatkan kepuasan lebih apabila melakukan mutilasi, nekrofilia ini dapat diakibatkan dari rasa benci karena penolakan  melakukan hubungan seksual dari lawan jenis yang disukai.
c.       Hubungan seksual diiringi dengan mutilasi dan kegiatan kanibalisme
Kepuasan penderita nekrofilia jenis ini akan menjadi sempurna apabila di tambah dengan kegiatan memakan beberapa organ mayat dan meminum darahnya, banyak orang menerka bahwa kegiatan memakan organ (kanibalisme) ini berhubungan dengan adanya kegiatan menuntut ilmu hitam, benar atau tidak itu masih menjadi isu–isu di masyarakat.
 


Sex abuse
Riset menurut Holmes dan Holmes (2002) mengklasifikasi 2 jenis pelaku pelecehan seksual:
1. berdasarkan situasional – tidak memilih pemuasan seksual hanya pada anak, namun pada kondisi tertentu bisa berhubungan seksual dengan anak. Jenisnya dapat dibagi menjadi:
a. Tipe regresi: memiliki relasi intim dengan orang dewasa lain, namun stress hidup membuat mereka mencari anak untuk memuaskan seksualitas
b. Tipe kemunduran moral: melakukan berbagai penyimpangan seks, pelecehan pada anak hanya salah satu hal penyimpangannya
c. Tipe naïf/tidak mampu: tidak mampu membuat relasi dengan lawan jenis yang setara, maka mencari anak karena mudah patuh dan tidak melawan
2. berdasarkan pilihan – pelaku memang memiliki minat seksual pada anak
a. Tipe mysoped: memiliki kecenderungan sadis dan melakukan kekerasan
b. Tipe fiksasi: minat pada dunia kanak terfiksasi sehingga tidak ada atau kurang melakukan aktivitas sosial dengan orang sebayanya
Penelitian menemukan bahwa sebagian pelaku pelecehan seksual dulunya pernah menjadi korban pelecehan seksual. Namun tidak semua korban pelecehan seksual anak akan menjadi pelaku di masa dewasanya. Kejahatan seksual didorong juga oleh distorsi kognitif atau ide yang salah mengenai kekerasan dan seksualitas, beberapa di antaranya adalah:
1) minimalisir luka, perilaku pelecehan disangkal lukanya atau dikecilkan agar terkesan tidak salah;
 2) menyalahkan korban, pelaku membuat dalih bahwa pelecehan terjadi karena kesalahan korban sendiri, misalkan karena kebodohan atau keinginan korban diperlakukan sedemikian rupa; dan
3) alasan, pelaku dapat berdalih bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain melakukan pelecehan, misalkan: karena istri sakit maka ia melakukan aktivitas seksual dengan anaknya. Mengingat penyebab besar dari pelecehan seksual adalah distorsi kognitif, maka intervensi bagi pelaku penting untuk menarget distorsi kognitifnya.

Analisi Film
            Dalam film Human Centipede: First Sequence, kita dapat melihat karakter yang sangat jelas dari Dr. Heiter, dan berdasarkan teori dan sumber yang kami baca, Dr.Heiter mengalami gangguan kesehatan seperti apa yang tercantum diatas (psikopat, nekrofilia, sex abuse). Jika dibahas satu persatu salah satu alasan mengapa Dr.Heiter dapat kita bilang seorang psikopat dapat dilihat dari perilaku dan kepribadiannya seperti, melakukan penculikan dan eksperimen manusia hanya demi kesenangan belaka, dan ia pun menganggap bahwa dirinya lebih tinggi derajatnya disbanding orang lain.
            Walaupun dalam film tersebut tidak diceritakan apa alasan dan bagaimana  Dr.Heiter menjadi  seorang psikopat, jika di dilihat dari sumber-sumber yang ada, psikopat sendiri bisa terjadi karena adanya konflik yang tidak terselesaian ataupun trauma ketika masa kanak-kanak.
            Dr.Heiter pun dalam analisis kami mengidap nekrofilia, walaupun dalam arti secara umum bahwa nekrofilia adalah kecintaan atau ketertarikan terhadap mayat, berdasarkan pendapat Fromm (1964, 1973)Nekrofilia memiliki arti yang lebih umum untuk menunjukkan ketertarikan akan kematian. Mereka mendapat kesenangan dengan menghancurkan kehidupan. Banyak sekali adegan-adegan yang menunjukan Dr.Heiter terlihat sangat puas dengan tindakannya terutama setelah berhasil mengoperasi orang-orang dalam film tersebut menjadi Manusia Kelabang, karena itulah kami berpendapat bahwa Dr.Heiter juga tergolong seorang Nekrofilia. Banyak sekali adegan pendukungnya seperti terlihat kepuasan ketika melihat eksperimennya tersiksa, ataupun ketika menyiksa langsung eksperimennya ketika tidak menuruti perintahnya dengan mencambuk atau memukuli eksperimennya tersebut.

            Selain dari adegan-adegan, sebenarnya dari tingkah laku, cara bicara, dan sikap dalam menghadapi sesuatu yang ditunjukan oleh Dr.Heiter sudah dapat menunjukan bahwa ia memiliki gagguan kesehatan mental. Maka dari itu ciri-ciri dari psikopat dan nekrofilia sangat terlihat dengan jelas, dan merupakan gangguan kesehatan mental yang diderita oleh Dr.Heiter.

Tidak ada komentar